Hadits Pilihan : Tertidur dan Terlupa Shalat

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Barangsiapa Tertidur dan Terlupa dari Shalat

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذاَ ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ، (وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي)

‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa dari mengerjakan shalat, maka kafarat (denda)nya adalah ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya, dan tidak ada kafaratnya selain itu, (firman Allah): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku.”‘

Sababul Wurud Hadits Ke-9:

Telah berkata Abu Ahmad al-Hakim, dan nama beliau adalah Muhammad bin Ishaq al-Hafizh dalam salah satu majlis imla’nya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin al-Husain (al-Hanawy), telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari az-Zuhri, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw pada malam beliau diisra’kan, beliau tidur hingga terbit matahari, lalu beliau pun shalat dan berkata, ‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa mendirikan shalat maka hendaknya ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah (yang artinya): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku., Dan aku melihat tulisan asy-Syaikh Waliyuddin al-‘Iraqy di dalam beberapa kumpulan haditsnya (jami’), di sana ia memuat hadits ini dengan teksnya sebagai berikut: ‘Telah diriwayatkan oleh Abu Ahmad al-Hakim di dalam salah satu majlis imla’nya dan ia berkata: ‘Gharib dari hadits Ma’mar dari az-Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dengan hadits Musnad, aku tidak mengetahui seorang pun menceritakan hadits ini melainkan Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry dari riwayat ini, dan Abban ibn Yazid al-‘Aththar darinya, yaitu dari Ma’mar. Asy-Syaikh Waliyuddin berkata: “Dan jawaban yang bagus untuk pertanyaan yang begitu masyhur, yaitu, ‘Mengapa penjelasan (waktu shalat, penj.) baru datang ketika waktu zhuhur, padahal shalat itu diwajibkan pada waktu malam?’ Maka jawabannya adalah bahwa Nabi saw tertidur waktu (shubuh), dan orang yang tidur tidak terkena beban.'” Ia berkata: “Dan ini adalah satu faedah yang besar.” Dan hadits ini sanadnya adalah shahih. Dan selesai pula ungkapan asy-Syaikh Waliyuddin. Aku berkata:” Yang benar tidaklah seperti apa yang ia katakan. Karena yang dimaksud dengan hadits di atas adalah ‘malam yang beliau di isra’kan (diperjalankan) dalam satu perjalanan’ bukan ‘malam yang di isra’kan ke langit.’ Beliau dirancukan dengan lafazh ‘di isra’kan’ ini.

Sababul Wurud Kedua:

  • Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menshahihkannya, dan an-Nasa’i, dari Abu Qatadah ia berkata: “Mereka memberitahukan kepada Nabi saw tentang shalat mereka yang terlewat lantaran ketiduran. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur), maka apabila salah seorang di antara kalian yang lupa atau tertidur dari shalat maka hendaklah ia mengerjakannya pada saat ia ingat.'”
  • Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Qatadah, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw- Lalu beliau berkata: ‘Kalian jika tidak mendapatkan air, besok akan kehausan.’Lalu orang-orang pun bersegera mencari air sedang aku tetap menyertai Rasulullah saw- Lalu Rasulullah saw tampak miring dari tunggangannya, beliau saw mengantuk. Lalu aku menopangnya dan beliau pun tertopang, kemudian beliau kembali miring hingga beliau hampir-hampir terjatuh dari tunggangannya lalu aku kembali menopangnya, hingga akhirnya beliau terjaga. Lalu beliau berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Abu Qatadah.’ Beliau berkata: ‘Sejak kapan kau seperti ini?’ Aku berkata: ‘Sejak semalaman.’ Beliau berkata: ‘Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjaga rasul-Nya’. Kemudian beliau kembali berkata: ‘Sebaiknya kita tidur’, lalu beliau menuju kesebatang pohon lalu turun dan berkata: ‘Lihatlah apakah engkau melihat seseorang?’ Aku berkata: ‘Ini ada seorang penunggang, ini ada dua orang penunggang, hingga hitungannya sampai ke tujuh orang.’ Lalu beliau berkata: ‘Jagakanlah shalat kami.’ Kami pun tidur, dan tidak ada yang membangunkan kami kecuali sinar matahari, kami pun terjaga. Lalu Rasulullah saw naik ke atas tunggangannya dan berlalu, dan kami pun berlalu namun hanya sejenak. Lalu beliau turun dan berkata: ‘Apakah kalian memiliki air?” Ia (Abu Qatadah) berkata: “Aku menjawab: ‘Ya, aku punya wadah yang ada sedikit air di dalamnya.’ Beliau berkata: ‘Berikan kepadaku.’ Lalu aku pun memberikannya. Beliau berkata: ‘Sentuhlah sebagiannya darinya.’ Lalu orang-orang pun berwudhu’ hingga tersisa satu tegukan. Lalu beliau bersabda: ‘Simpanlah wadah ini, wahai Abu Qatadah, karena akan ada padanya satu berita.’ Lalu Bilal mengumandangkan adzan, dan mereka shalat dua rakaat sebelum fajar. Lalu berkatalah sebagian di antara mereka dengan sebagian yang lainnya: ‘Kita telah melakukan kecerobohan dalam shalat kita.’ Lalu Rasulullah saw, bersabda: ‘Apa yang kalian bicarakan? Jika itu urusan dunia kalian maka itu urusan kalian, dan jika itu urusan agama kalian maka kembalikan kepadaku.’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah kita telah bertindak ceroboh dalam shalat kita.’ Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur). Jika terjadi seperti itu maka lakukanlah shalat, sekalipun besok maka itulah waktunya.'”

Tahqiq ke 9

Hadits Ke-9:

  • al-Bukhari -dan lafazh ini baginya- dalam kitab: Mawaqit ash-Shalah, bab: Man Nasiya Shalatan Idza Dzakaraha, wa la Yu’idu illa tilka as-Shalah (Barangsiapa Lupa Mengerjakan Shalat maka Hendaklah Ia Mengerjakannya ketika Ia Mengingatnya, dan Ia Tidak Perlu Mengulangi Kecuali Shalat Itu, (1/154));
  • Muslim dari hadits Qatadah dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbabu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/334));
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shalah, bab: Man Nama’an Shalatin aw Nasiyha (Barangsiapa yang Tertidur atau Terlupa dari Shalat, (1/105));
  • Ahmad dari hadits Anas dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Dan hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari berbagai jalur periwayatan. Jalur yang pertama, dari hadits Abu Awanah dan dalam jalur ini tidak disebutkan: ‘Tidak ada kaffaratnya melainkan itu’. Dan jalur yang kedua, dari hadits Qatadah. Yang ketiga, dari hadits al-Mutsanna dari Qatadah, dan semua jalur-jalur ini lafazh-lafazhnya saling berdekatan;
  • Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab: ash-Shalah, bab: Ma Ja’afi an-Naum ‘an ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat). Abu ‘Isa berkata: “Hadits hasan shahih;”
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah, bab: Fi Man Nama’an Shalatin (Tentang Orang-orang yang Tertidur dari Shalat), 1/236;
  • Ad-Darimi, kitab: ash-Shalah bab: Man Nama’an Shalatin au Nasiyaha (Barangsiapa Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa) juga Imam Ahmad, semuanya dari hadits Anas bin Malik dengan redaksi yang hampir sama;
  • Dan Imam an-Nasa’i serta Ibnu Majah kitab: as-Shalah, bab: Man Nama ‘an as-Shalah aw Nasiyaha (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa), dari Anas tanpa lafazh: “Tiada kafarat untuk shalat itu kecuali shalat (yang dikerjakan) tersebut”;
  • Dan dikeluarkan oleh Imam an-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: Fi Man Nama ‘an Shalatin (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat), dari Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan. Aku (Ma’mar) berkata kepada az-Zuhri: “Apakah seperti ini yang dibaca oleh Rasulullah saw Ia berkata: “Ya!”

Aku berkata: “As-Suyuthi dalam Zahrur Ruba ‘ala al-Mujtaba 1/239, berkata: ‘Bacaan ini (yaitu bacaan lidzdzikri, pada firman Allah (yang artinya: ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku’- penj.) dengan dua lam dan menfathahkan ra’ al-maqshurah, ia berbentuk mashdar dengan makna mengingat. Yaitu pada waktu mengingatnya. Dan model bacaan ini tidak terdapat di dalam qira’ah as-sab’ah.

Penjelasan Sababul wurud pertama: tertolak dengan hadits yang diriwayatkan asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim), al-Baihaqi, dari Aisyah radiyallahu anha bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah engkau tidur sebelum witir?” Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, kedua mataku tertidur, namun hatiku tidak tidur.” HR. al-Bukhari dalam kitab: at-Tahajjud, bab: Qiyamu an-Nabiy bi al-Lail fi Ramadhan wa Ghairih (Qiyamnya Nabi di Malam Ramadhan dan Lainnya). Muslim dalam kitab Shalatu al-Musafirin. bab: Shalatu al-Lail (Shalat Malam). Dan dalam ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’ad 1/1/113, dan dalam as-Sunan al-Kubra 7/62.

Ada yang menjawab penolakan tersebut, dengan berkata: “Bahwa Rasulullah saw memiliki dua macam tidur. Pertama, hati dan kedua matanya tidur bersamaan, dan itulah tidur beliau ketika beliau berada di lembah. Kedua, adalah dua matanya tertidur sedang hatinya tidak.”

Lihat dalam Allafdhul Mukarram bi Khashaish an-Nabi lembaran 131 perpustakaan al-Azhar 2134. Dan lihat juga dalam Ma’a ar-Rasul fi Siratihi wa Siyarihi oleh pengarang dalam bab kekhususan-kekhususan Rasulullah saw.

Sababul wurud kedua: Lafazh an-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah bab: Man Nama ‘an ash-Shalah au Nasiyaha (Orang-orang yang Tertidur dari Shalatnya, (1/237)). Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam bab-bab shalat, bab: Ma Ja’a fi an-Naum an’ ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat, (1/114)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Qatadah hadits hasan shahih.”

Sababul wurud ketiga: Sebagian lafazh hadits milik Ahmad 5/298, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-Mawaqit, bab: al-Adzan ba’da Dzahabi al-Waqti (Adzan Setelah Lewat Waktu). Muslim dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbahu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/327)) dari Abu Qatadah. Dan diriwayatkan oleh Ahmad 4/431, dan Muslim dari ‘Imran bin Husain, dengan lafazh yang beragam, dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan lafazh yang berdekatan. Terdapat di dalam riwayat Ahmad 4/441 dari ‘Imran bin Husain: “Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah tidakkah kita mengulanginya di keesokan harinya dengan (shalat) tepat pada waktunya?’ Beliau menjawab: Apakah Tuhanmu Tabarak wa Ta’ala melarangmu dari riba dan Dia menerimanya dari kalian.‘ Dan diriwayatkan oleh Ahmad 5/309, dari Abu Qatadah bahwa ketika Rasulullah saw dan para shahabatnya mendirikan shalat Ialu usai, Rasulullah saw, berkata kepada mereka: ‘Kalian melakukan shalat keesokan harinya adalah masih waktunya.'”

As-Suyuthi menukil dari Ibnu Sayyidunnas tentang penggabungan di antara dua riwayat tersebut, ia berkata: “Bentuk pengkompromiannya adalah bahwa dhamir pada kata Jal-yushalliha’ kembali kepada shalat yang keesokan harinya (shalotul ghad), maksudnya laksanakanlah shalat yang terluput itu, seperti apa yang biasa diperbuat setiap hari tanpa ada tambahan atasnya, maka dengan demikian berkesesuaianlah seluruh lafazh-lafazh tersebut pada makna yang satu yang ia tidak melampaui yang lainnya. Lihat: Zahru ar-Ruba ‘alal Mujtaba 1/238.

Kosa kata: ‘Arrasa al-musafir, maksudnya berada pada waktu akhir malam sebelum fajar. Seorang Arab wanita badui dari Bani Namir berkata:

Cahaya kemerahan telah tampak, lalu kami turun dari tunggangan

Maka setelah waktu ini berlalu, tiada lagi waktu yang cocok untuk istirahat

Lihat Lisanul Arab 8/11 dan an-Nihayah 3/80. ‘Da’ama as-Syaiu yad’umu da’mari maksudnya ia miring lalu aku meluruskannya. Sedang ad-da’mu yaitu sesuatu yang ditopang. Penyair berkata:

Tatkala aku melihatnya bahwa ia tidak lagi memiliki penopang (tua renta)

Dan aku digiring pada sebuah kebosanan (hidup),

maka aku mulai sekarat, yang mana sempat menggoncangkan kondisi harta (keuangan keluargaku)

Lihat Lisanul Arab 15/91. Makna Izdahara bihi, adalah simpanlah ia dan jadikan ia dalam ingatanmu, diambil dari ungkapan mereka: aQadhaltu minhu zahrati yaitu hajatku. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata izdihar, yang bermakna gembira. Sababul wurud pertama yang disebutkan oleh as-Suyuthy sanadnya adalah gharib shahih. Sebagaimana yang dinukil oleh pengarang dari al-Iraqi disini, dan di dalam Zahrur Ruba ala al-Mujtaba’ 1/238, dan dalam lafazh muslim disebutkan: ‘Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang tidak melaksanakan shalat lalu datang waktu shalat berikutnya.’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s